Maroko Sebagai Tim Kosmopolitan

Maroko Sebagai Tim Kosmopolitan

Piala Dunia 2018

Maroko berhasil lolos ke Piala Dunia Russia 2018 dan tergabung ke dalam grup B bersama duo tim kuat, Portugal dan Spanyol, serta tim kuat dari Asia, Iran. Walaupun Maroko sudah angkat koper lebih awal namun Maroko tidak menyerah tanpa perlawanan meraka menampilkan permainan terbaik dan kalah beruntung dari lawannya. Di balik semangat tim dari benua Afrika ini, ada fakta yang menyebutkan Maroko sebagai tim kosmopolitan. Hal itu tidak lepas dari banyaknya pemain Maroko yang lahir dan besar dari luar negaranya. Siapa saja mereka?

Sebut saja Mehdi Benatia. Nama Benatia jelas akan menjadi komponen penting timnas Maroko dalam perhelatan ini. Namun Benatia baru membela Maroko pada 2008 dan justru sempat membela tim junior Perancis. Hal itu nampak wajar karena bek Juventus ini lahir di Perancis dari ayah Maroko dan ibu Aljazair.

Tak hanya Benatia, ada juga nama Achraf Hakimi. Hakimi muncul pertama kali di tim Real Madrid arahan Zinedine Zidane. Dia bermain sebagai bek kanan dan muncul sebagai salah satu mutiara akademi Madrid. Sejak kecil, Hakimi sudah berada di Spanyol. Namun ia memutuskan untuk membela negara orang tuanya, yakni Maroko. Hakimi juga sempat menolak untuk dinaturalisasi timnas Belanda dengan iming-iming bermain di Piala Dunia. Sayangnya, justru tim Oranye yang tak lolos ke Russia.

Apabila ditotal, ada 17 dari 23 pemain terpilih yang berasal dari luar Maroko. Selain dua defender di atas, ada juga nama lain seperti dua kiper Yassine Bonou dari Kanada dan Munir Mohamedi dari Spanyol. Kemudian di barisan defender masih ada nama Romain Saiss Prancis dan Manuel da Costa dari Prancis. Kemudian di barisan midfielder Mbark Boussoufa, Karim El Ahmadi, Sofyan Amrabat, Nordin Amrabat, dan Hakim Ziyech yang sama sama dari Belanda. Lalu ada Younes Belhanda, Faycal Fajr, dan Amine Harit yang berasal dari Perancis. Serta Ait Bennasser dari Jerman dan Mehdi Carcela-Gonzalez dari Belgia. Di pos striker, ada nama Khalid Boutaib dari Prancis.

Mereka memilih Maroko adalah langkah yang tepat bila dibandingkan dengan Munir El-Hadaddi yang memilih Spanyol namun tak dipanggil sang pelatih karena kalah bersaing dengan nama besar skuad tim Matador.